Jumat, 03 Agustus 2012

Ibu

 


BERSINAR KAU BAGAI CAHAYA 
KAN SELALU BERI KU PENERANGAN
SELEMBUT SUTRA KASIH BUNGA
SELALU KURASA DALAM SUKA DAN DUKA 

KAU LAH IBUKU CINTA KASIHKU
TERIMA KASIHKU TAK KAN PERNAH TERHENTI 
KAU BAGAI MATAHARI 
YANG SLALU BERSINAR
SINARI HIDUPKU DENGAN KEHANGATANMU 

BAGAIKAN EMBUN KESEJUKAN
HATI IN DERNGAN KASIH SAYANGMU

BETAPA KAU SANGAT BERARTI
DAN BAGIKU KAU TAK KAN PERNAH TERGANTI

KAU LAH IBUKU CINTA KASIHKU
TERIMA KASIHKU TAK KAN PERNAH TERHENTI 
KAU BAGAI MATAHARI 
YANG SLALU BERSINAR
SINARI HIDUPKU DENGAN KEHANGATANMU

KAU LAH IBUKU CINTA KASIHKU
TERIMA KASIHKU TAK KAN PERNAH TERHENTI
KAU BAGAI MATAHARI 
YANG SLALU BERSINAR
SINARI HIDUPKU DENGAN KEHANGATANMU
SINARI HIDUPKU DENGAN KEHANGATANMU





Selasa, 26 Juni 2012

Proses

Jika kebanyakan orang mengeluh akan kehidupannya, maka saya juga salah satunya. Mengeluh itu lumrah sebagai salah satu sifat manusia. Namun, apakah kemudian hidup itu hanya mengeluh dan mengeluh? Saya harus jawab dengan tegas "tentu TIDAK".
Ingat hidup memang sudah digariskan menjalani segala penderitaan. Ketika manusia diuji dengan penderitaan maka sebenarnya itu adalah ujian. Dalam proses kehidupan, ujian diperlukan untuk meningkatkan level dan memberi evaluasi ketahanan diri. Maka barang siapa yang mampu mengatasi dan melewati ujian tersebut tentu keberhasilan dan kebahagiaan yang didapat. Tapi sebaliknya, bagi siapa pun yang menyerah dalam proses tersebut maka penderitaan demi penderitaan lah yang akan terus dijalani (kegagalan).
Mengeluh akan ujian yang terlampau berat bukan berarti berhenti berjuang atau gagal. Seseorang hanya butuh waktu. Mengeluh masih dianggap wajar selama ujian pada akhirnya tetap diselesaikan. Mengeluh bisa membantu seseorang bangkit disaat terjatuh. Mengeluh juga berarti mempertanyakan kemampuan diri apakah sanggup melalui ujian tersebut. Jika kemudian menguatkan keyakinan dan mempertegas langkah maka mengeluh akan menjadi bagian dari proses penyelesaian ujian tersebut. Hal tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
1. Ujian ringan --> lulus
2. Ujian berat --> belum lulus --> mengeluh --> evaluasi --> ujian ulang --> lulus
3. Ujian berat --> belum lulus --> mengeluh --> ujian ulang --> mengeluh --> evaluasi --> ujian ulang --> lulus
4. Ujian berat --> belum lulus --> mengeluh --> ujian ulang --> mengeluh --> ujian ulang --> mengeluh --> gagal
Penggambaran di atas akan menunjukkan posisi diri kita. Apakah kita masuk dalam kategori nomor 2, 3 atau nomor 4? Kemudian menentukan apakah kita sebagai pemenang sejati yang bangkit dari keterpurukan atau pecundang yang terus terjerembab kegagalan mutlak? Maka tak selamanya mengeluh itu buruk. Silahkan keluarkan keluhan-keluhan anda, karena anda butuh evaluasi.
Dalam kondisi seperti ini, ada yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang kuat sehingga ia mampu berdiri sendiri. Memotivasi dan meyakinkan dirinya menjadi modal awal kebangkitannya. Namun, jika ini menjadi titik kelemahan maka harus ada seseorang di samping anda yang senantiasa mendengarkan sekaligus memberikan masukan (motivasi eksternal). Mulailah belajar mengenali diri anda sendiri.

Kesuksesan

Kesempurnaan, kesuksesan, kemenangan, keberhasilan, kejayaan dan masih banyak kata-kata lain yang menggambarkan harapan setiap manusia (normal tentunya). Namun banyak pula yang tidak mengetahui atau lupa dan tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam proses yang bermuara pada kondisi yang sebaliknya. Sehingga akhirnya mereka mengeluh, pasrah dan berkata "Allah tidak menggariskan kesuksesan dalam hidup saya".
Muncul pertanyaan, seberapa besar sebenarnya dorongan manusia untuk menjadikan dirinya menggapai harapannya? Kenapa kebanyakan manusia cenderung membiarkan, lupa dan tidak sadar telah menjebloskan dirinya gagal, kalah dan menderita bahkan sampai akhir hidupnya? Padahal Allah telah berfirman "Tidak akan Aku rubah suatu kaum, jika tidak merubahnya sendiri". Lalu, bagaimana manusia seharusnya menempatkan dirinya agar senantiasa tertuju pada harapan hidupnya yang sempurna?
Manusia dilahirkan dalam kelemahan dan ketidaksempurnaan. Bayi yang baru lahir akan menangis. Hal ini menjadi bukti bahwa manusia menderita sejak dilahirkan. Meskipun pada saat itu orang-orang disekitarnya tersenyum. Namun tidak ada satupun yang mengetahui bayi tersebut kelak akan membuat orang tersenyum kembali atau justru sebalikya. Bahkan sampai kedua orang tuanya bersumpah menyesal telah melahirkannya.
Manusia yang sadar akan kelemahan dan ketidaksempurnaannya tersebut tentunya akan terus berusaha memperjuangkan hidupnya paling tidak mendekati kesempurnaan. Namun kecenderungan manusia, bahkan dalam keadaan sadar, telah menjebloskan dirinya menjadi gagal, kalah dan menderita bahkan sampai akhir hidupnya. Padahal harapannya yang tinggi, seharusnya membuat manusia selalu menempatkan dirinya agar senantiasa berjalan pada "rel" yang tepat.

Minggu, 24 Juni 2012

AKU ingin MENULIS kembali...

Waaaaaaaaahhhhhh.... banyak juga yang ingin saya tulis. Saya mulai dari mana ya? Hmmm... Saya mulai dari hal pribadi dulu aja deh, karena rasanya saya harus berbagi kabar dulu nih, sudah cukup lama tidak menambah daftar "Entri". Padahal ada begitu banyak waktu dan kesempatan untuk terus melatih menjadi penulis yang handal. Tapi ya saya akui, kadang meluangkan waktu sebentar aja rasanya berat.
Lain dulu lain sekarang, kalimat yang pas untuk menggambarkan kondisi saya saat ini. Saat ini saya tinggal dan berwiraswasta di daerah Mauk, Tangerang. Saya merasa nyaman dengan keadaan sekarang. Ada beberapa alasan, pertama, saya merasa tenang karena dekat dengan keluarga terutama "Ema". Tentu saja saya ingin menjadi anak yang berbakti dengan senantiasa membantu beliau dimasa tuanya. Membantu dalam arti selalu berada didekatnya, karena posisi anak pasti yang paling diharapkan keberadaanya meski sekedar membeli "tabung gas".
Kedua, secara perlahan saya mulai meniti karir impian saya yakni menjadi "Bos". Cukup bagi saya pengalaman menjadi pegawai. Keyakinan dan motivasi menuntun saya menjalani hari demi hari untuk selalu meningkatkan kemampuan "entrepreneur" hingga menargetkan pensiun di usia 35 tahun. Selain itu mimpi ini sejalan dengan kemampuan, bakat dan hobi saya pribadi. Prinsip saya semua perjalanan hidup atau pengalaman adalah ilmu. Semakin hari maka ilmu saya harus bertambah.
Ketiga, saat ini saya terus mencapai 3 alasan utama berwiraswasta yakni Financial Freedom, Passive Income dan More Time. Saya menikmati hari-hari menjadi pengusaha amatir walaupun masih memiliki hutang, masih berstatus rangkap pegawai dan terlalu sibuk untuk meluangkan waktu berlibur.
Keempat, meski dikatakan tinggal di desa, saya tetap percaya diri. Karena bukan sekedar desa atau kota yang akan menjadi pembeda, tapi lebih dari itu. Faktanya desa lebih nyaman dari pada kota. Fasilitas cukup lengkap. Kesempatan dan peluang juga sama banyaknya karena itu tergantung orangnya. Bahkan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri dan mengembangkan orang lain.
Kelima, Mauk adalah "titik" bagi saya. Mauk lebih dari sekedar desa (dalam pemahaman umum), karena Mauk menjadi sentral ekonomi, pendidikan dan pemerintahan. Mauk adalah kecamatan, pasar dan populasi ribuan penduduk. Selain itu Mauk dekat dengan Kota Tangerang dan Ibukota Jakata. Maka tidak salah jika saya jadikan Mauk sebagai "titik" dan lebih dari itu menjadi "lingkaran utama".
Itulah alasan saya memilih Mauk sebagai tempat yang nyaman untuk saya dan masa depan saya selanjutnya.
Tentu saja saya ingin berbagi cerita ini karena masukan, saran dan kritik dari anda tentu akan membuat lebih bernilai tulisan ini dan berikutnya. Selanjutnya apa yang saya lakukan di Mauk??? tunggu cerita berikutnya.

Kamis, 29 April 2010

Matiku Makin Dekat

Jika Allah mencabut nyawa ini

Ya Allah, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu
Engkau hendaki apa yang Kau kehendaki
Engkau buktikan apa yang Kau janjikan

Ya Allah, izinkan hamba yang hina ini
Memohon kepada-Mu untuk kesekian kalinya
Karena aku tahu hidayah dan karunia-Mu tak akan habis
Bila dibandingkan dengan isi jagad raya ini

Ya Allah, aku tahu diri ini pasti akan kembali kepada keribaan-Mu
Aku tahu raga ini akhirnya hancur beserta materi yang mengikutinya
Namun ya Allah, jika akhirnya Kau cabut nyawa ini
Apakah jiwa yang kotor ini Kau terima?
Sedangkan Engau Maha Suci, bersih dan indah

Segala puji hanya bagi-Mu
Aku mohon pada-Mu
Izinkan hamba membersihkan dan mensucikan jiwa ini
Tanpa pertolongan-Mu, jiwa ini akan tetap kotor

Aku adalah Diriku

Semakin bertambah usia
Semakin aku lebih mengenal
Siapa diri ini sebenarnya

Berharap aku lebih bisa menjadi diriku sebenarnya
Aku harus bisa lebih menguasai diri
Aku harus bisa mengeluarkan seluruh potensi

Buat diri ini bangga
Atas apa yang dilakukan meski itu kecil
Biarkan saja mengalir seperti air
Lalui semua liku kehidupan

Selalu ingatkan diri ini tentang cerita lalu
Agar terus belajar memperbaiki diri
Lalu tanyakan apa perubahannya?

Kamis, 15 April 2010

Mengingatkan



Teringat akan tulisanku tentang kematian
Semakin lama semakin terbayangkan
Dekat... itu yang kurasakan
Makin hari kian mendebarkan
Hilangkan semua impian dan harapan

Namun yang kutunggu tak kunjung datang
Mungkinkah ini hanya ujian dan cobaan
Hingga kuyakin masih ada kesempatan
Hingga kulewati dan akan ku akhiri dengan kemenangan