Selasa, 26 Juni 2012

Proses

Jika kebanyakan orang mengeluh akan kehidupannya, maka saya juga salah satunya. Mengeluh itu lumrah sebagai salah satu sifat manusia. Namun, apakah kemudian hidup itu hanya mengeluh dan mengeluh? Saya harus jawab dengan tegas "tentu TIDAK".
Ingat hidup memang sudah digariskan menjalani segala penderitaan. Ketika manusia diuji dengan penderitaan maka sebenarnya itu adalah ujian. Dalam proses kehidupan, ujian diperlukan untuk meningkatkan level dan memberi evaluasi ketahanan diri. Maka barang siapa yang mampu mengatasi dan melewati ujian tersebut tentu keberhasilan dan kebahagiaan yang didapat. Tapi sebaliknya, bagi siapa pun yang menyerah dalam proses tersebut maka penderitaan demi penderitaan lah yang akan terus dijalani (kegagalan).
Mengeluh akan ujian yang terlampau berat bukan berarti berhenti berjuang atau gagal. Seseorang hanya butuh waktu. Mengeluh masih dianggap wajar selama ujian pada akhirnya tetap diselesaikan. Mengeluh bisa membantu seseorang bangkit disaat terjatuh. Mengeluh juga berarti mempertanyakan kemampuan diri apakah sanggup melalui ujian tersebut. Jika kemudian menguatkan keyakinan dan mempertegas langkah maka mengeluh akan menjadi bagian dari proses penyelesaian ujian tersebut. Hal tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
1. Ujian ringan --> lulus
2. Ujian berat --> belum lulus --> mengeluh --> evaluasi --> ujian ulang --> lulus
3. Ujian berat --> belum lulus --> mengeluh --> ujian ulang --> mengeluh --> evaluasi --> ujian ulang --> lulus
4. Ujian berat --> belum lulus --> mengeluh --> ujian ulang --> mengeluh --> ujian ulang --> mengeluh --> gagal
Penggambaran di atas akan menunjukkan posisi diri kita. Apakah kita masuk dalam kategori nomor 2, 3 atau nomor 4? Kemudian menentukan apakah kita sebagai pemenang sejati yang bangkit dari keterpurukan atau pecundang yang terus terjerembab kegagalan mutlak? Maka tak selamanya mengeluh itu buruk. Silahkan keluarkan keluhan-keluhan anda, karena anda butuh evaluasi.
Dalam kondisi seperti ini, ada yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang kuat sehingga ia mampu berdiri sendiri. Memotivasi dan meyakinkan dirinya menjadi modal awal kebangkitannya. Namun, jika ini menjadi titik kelemahan maka harus ada seseorang di samping anda yang senantiasa mendengarkan sekaligus memberikan masukan (motivasi eksternal). Mulailah belajar mengenali diri anda sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar