Kesempurnaan, kesuksesan, kemenangan, keberhasilan, kejayaan dan masih banyak kata-kata lain yang menggambarkan harapan setiap manusia (normal tentunya). Namun banyak pula yang tidak mengetahui atau lupa dan tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam proses yang bermuara pada kondisi yang sebaliknya. Sehingga akhirnya mereka mengeluh, pasrah dan berkata "Allah tidak menggariskan kesuksesan dalam hidup saya".
Muncul pertanyaan, seberapa besar sebenarnya dorongan manusia untuk menjadikan dirinya menggapai harapannya? Kenapa kebanyakan manusia cenderung membiarkan, lupa dan tidak sadar telah menjebloskan dirinya gagal, kalah dan menderita bahkan sampai akhir hidupnya? Padahal Allah telah berfirman "Tidak akan Aku rubah suatu kaum, jika tidak merubahnya sendiri". Lalu, bagaimana manusia seharusnya menempatkan dirinya agar senantiasa tertuju pada harapan hidupnya yang sempurna?
Manusia dilahirkan dalam kelemahan dan ketidaksempurnaan. Bayi yang baru lahir akan menangis. Hal ini menjadi bukti bahwa manusia menderita sejak dilahirkan. Meskipun pada saat itu orang-orang disekitarnya tersenyum. Namun tidak ada satupun yang mengetahui bayi tersebut kelak akan membuat orang tersenyum kembali atau justru sebalikya. Bahkan sampai kedua orang tuanya bersumpah menyesal telah melahirkannya.
Manusia yang sadar akan kelemahan dan ketidaksempurnaannya tersebut tentunya akan terus berusaha memperjuangkan hidupnya paling tidak mendekati kesempurnaan. Namun kecenderungan manusia, bahkan dalam keadaan sadar, telah menjebloskan dirinya menjadi gagal, kalah dan menderita bahkan sampai akhir hidupnya. Padahal harapannya yang tinggi, seharusnya membuat manusia selalu menempatkan dirinya agar senantiasa berjalan pada "rel" yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar